Abang, Kamu dan Aku itu musuh [R-18]

 

Judul Asli: 夫よ。あなたと私は敵対しているのです。


Author: しょうめつ


Link: https://novel18.syosetu.com/n4212hu/



—Hanya sekilas pandang.

Dan aku mengalami bagaimana rasanya disambar petir.

Dibandingkan dengan apa yang biasa aku baca dalam sebuah cerita, tidak ada kata yang pas untuk menggambarkan hal yang kurasakan saat ini.

Di suatu perbatasan negara.

Terdapat garis pemisah biasa yang memisahkan antar dua negara. Karena banyaknya kesamaan, dua negara tetangga ini selalu rawan konflik.

Meskipun perjanjian gencatan senjata telah ditandatangani, ada kejadian baru yang terungkap, yaitu Perdana Menteri di salah satu negara itu sudah berbuat culas. Demi memperkaya dirinya sendiri, dia dengan sengaja menjual tanaman terlarang ke orang-orang di negara tetangga.

Akibatnya, hubungan antara Rouga. negaraku, dan Quell, negara tetangga, menjadi memburuk. ketegangan pun meningkat drastis.

Tentu saja, si perdana menteri itu sudah dijatuhi hukuman, tetapi negara tetangga bersikeras untuk mengekstradisi perdana menteri. jika dalam keadaan normal, tentu dia akan diserahkan. Namun, si perdana menteri ini memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan, sehingga menjadi rumit.

Jika kami menyerahkannya kepada Quell, maka mereka akan punya hak penuh untuk menghakiminya. Dengan kata lain, apapun hukuman yang dia terima, kami tidak akan bisa mengeluh. Walau bukan pewaris tahta, jika salah satu keluarga Kerajaan dihukum begitu saja, seluruh keluarga Kerajaan Rouga pasti akan tersinggung. 

Meskipun demikian, keadaan kami juga sudah berada di ujung tanduk. karena berkurangnya semangat juang dan kesiapan tempur karena masalah ini.

—Terlebih lagi, Di negara tetangga Quell, ada adik sang kaisar yang sekaligus merangkap menjadi Jenderal perang: Greizel, seorang jenderal yang terkenal gahar. Meskipun pasukan kami tidak kalah dalam jumlah personel, kami dirugikan karena kami kekurangan komandan yang kompeten. Mempertimbangkan hal itu, kerajaan kami ingin mengendalikan situasi dan menghindari perang sebisa mungkin sambil mempertahankan status quo saat ini.

Untuk alasan itulah, aku, Meira Dors Rouglia, Putri Ketiga Kerajaan Rouga, tiba di negara tetangga bersama beberapa diplomat untuk meredakan ketegangan.

Mengapa aku, sang Putri Ketiga Kerajaan Rouga ini menemani para diplomat ini? Ini adalah cara untuk menunjukkan bahwa kami tidak berniat memulai perang di tengah situasi saat ini. Terlebih sebagai anggota keluarga Kerajaan, ini juga merupakan simbol penyesalan kami yang tulus atas insiden yang disebabkan oleh perdana menteri.

Tentu saja, ini adalah peran yang berisiko, dan ibuku berusaha mencegahku. Tapi, jika aku tidak menemani para diplomat, maka usaha diplomasi ini hanya akan dilihat sebagai pengalihan tanggung jawab saja. Untungnya, karena aku adalah putri ketiga, aku belum bertunangan dan tidak terlalu terlibat di politik seperti kakak perempuanku. Wajahku juga tidak terlalu terekspos dan aku juga tidak begitu populer di kalangan masyarakat, bahkan jika terjadi sesuatu, aku mungkin bisa mencegah hal terburuk—yaitu pecahnya perang.

Ayahku menerima pendapatku, dan ibuku hanya bisa pasrah. karena itu, aku harus bersiap menjalani peranku ini.

“—fiuuh.”
"Tuan Putri, bagaimana keadaan Anda?"
"Aku baik-baik saja."
Setelah menjawab pertanyaan pelayan, aku menyandarkan badanku di kursi. Kursi yang terbuat dari bahan yang mewah, melambangkan kekuatan nasional negara tetangga ini. Meskipun aku terlihat santai, dalam pikiranku, ketegangan membludak.
Untuk saat ini, aku telah tiba dengan selamat di ruang tamu yang telah disiapkan. Meski masih ada perasaan tegang, tidak ada hal aneh yang terjadi. aku menganggap ini sebagai pertanda baik karena orang-orang Quell tidak menargetkan kami secara langsung. Paling tidak, sepertinya mereka juga tidak ingin memulai perang.
“Kalau begitu, saya permisi dulu.”
"Aku serahkan sisanya padamu, Higgs." 
Sambil tersenyum, Higgs mengangguk dan meninggalkan ruangan. Nasib negara kami ada di tangan para diplomat yang dipimpin oleh Higgs. Terlepas dari sikapnya yang tenang, kecerdasan dan keuletannya pantas diacungi jempol. Dalam keadaan normal, dia pasti bisa mengendalikan semuanya.
Aku tidak punya pilihan selain membiarkan mereka menjalani misi mereka terlebih dahulu. Adapun peranku sebagai Tuan Putri belum tiba. Setelah konferensi tiga hari, aku akan menghadiri jamuan pesta makan malam. Selama acara itu, aku akan menunjukkan bahwa kami tidak memiliki niat buruk, dan kami menyesal sekaligus ingin memperbaiki persahabatan kami. Pada saat yang sama, aku juga tidak boleh terlihat bodoh atau terlalu berhati-hati.
Seimbang adalah kuncinya.
“Ugh…” Aku sedikit tertekan.
Aku melakukan ini atas kemauanku sendiri.
Aku ingin punya rekam jejak yang baik, seperti yang dilakukan oleh kakak perempuanku. Aku ingin melindungi negaraku. Aku ingin diakui meski hanya sedikit.
Sekilas aku berpikir, apakah aku terlalu terburu-buru meskipun pada akhirnya aku juga akan dikorbankan.
Pertemuan hari pertama tampaknya berakhir tanpa insiden apapun. Aku melihat bayanganku sendiri di cermin sementara para pelayan membantuku berdandan.
Meski tidak memancarkan kecantikan yang luar biasa, aku tidak ingin berpenampilan buruk, aku punya pesona feminin yang tidak kalah dengan yang lain.
Meskipun ada kalanya aku depresi karena tidak mewarisi kecantikan ibuku yang tiada tara seperti kakak perempuanku, penampilanku sangat ideal untuk situasi saat ini. Lagipula, penampilan yang terlalu cantik terkadang bisa mengintimidasi orang lain.
"Tuan Putri, sudah waktunya."
"Baik."
Aku mengangkat daguku dan mengerucutkan bibirku mendengar perkataan si pelayan.
Kemudian, kami pun tiba di ruang makan. 
Sambil memperlihatkan ekspresi tegas yang sama dengan para menteri dari negara ini, aku berjalan perlahan dan menatap para keluarga Kekaisaran Quell, memperhatikan ekspresi mereka.
Namun, aku tidak bisa memalingkan mataku ketika menatap seseorang. dan orang itu juga menatapku dengan mata terbelalak.
Aku terpesona.
Terlepas dari betapa klisenya itu, aku tak bisa berkata-kata.
Ekspresinya sama tegasnya dengan para menteri, matanya setajam burung pemangsa. lengannya besar dan berotot, tubuhnya tegap. Meskipun terlihat seperti seorang tentara biasa, dia penuh dengan pesona maskulin. Hal yang kusebutkan di atas memang mengagumkan, tapi bukan itu yang membuatku terkejut.
“Ah…”
Aku mulai sempoyongan. tidak dapat menahan apa yang sedang terjadi, aku hilang keseimbangan.
(Sekarang bukan waktunya untuk—)
—Meskipun aku sudah berusaha, tetap tidak berhasil.
Ketika aku membuka mata, aku merasa tenagaku mulai normal.
(—Aku mengacaukan semuanya.)
Aku gagal. aku membuat kesalahan. bahkan sebelum acara makan malam dimulai, aku pingsan. sungguh kesalahan yang fatal. perasaanku campur aduk karena hal ini. bahkan sebelum aku bisa mengatakan sepatah kata pun, aku sudah membuat kesan yang buruk.
Namun, yang membuatku terkejut adalah…
"…Kenapa dia ada di sini?"
(Orang itu.)
Hanya ada satu tentara yang punya posisi di antara keluarga Kekaisaran.
Yaitu Jenderal Greizel de Gouda Quell yang terkenal garang, adik sang kaisar dan simbol dari bela diri saat ini.
(Dia terlihat sangat berbeda.)
Aku bahkan tidak bisa berkata-kata, dan aku tahu kenapa—
—karena dia adalah mantan suamiku. walau tidak tepat juga menyebutnya sebagai mantan suamiku saat ini. 
Kemungkinan besar, ini adalah ingatanku dari kehidupanku sebelumnya—dari sebelum aku menjadi diriku saat ini—kenangan akan waktu yang biasa, tenang, namun indah. saat-saat ketika aku menghabiskan waktuku bersamanya dengan tenang, tanpa sesuatu yang dramatis, tanpa neko-neko. 
Terutama setelah aku sudah bertekad untuk tidak akan menjalani kehidupan seperti itu lagi setelah aku dilahirkan kembali.
(Aku tidak mau…)
Mengapa aku harus mengingat kembali kehidupan kami yang biasa-biasa itu? Aku iri betapa puasnya diriku saat itu.
(...dia menjadi jenderal dari negara musuh—)
—Tentu saja, ini bukan hanya soal apakah aku masih mencintainya atau tidak. Untuk diriku yang dulu, suamiku sudah kuanggap sebagai keluargaku—bagian dari diriku. Meski saat ini kami hanya orang asing, aku tidak tahu bagaimana aku harus menjaga sikapku, terutama mengingat kami telah memelihara ikatan suami istri yang begitu lama.
(...Ini perasaan yang sama seperti ketika ayah atau anakmu tiba-tiba diambil.)
(Aku ingin keluargaku kembali.)
Terlepas dari situasi saat ini, keinginan yang tidak masuk akal ini muncul. Aku tahu betapa absurdnya itu, namun aku tidak bisa menahan diri.
“… Kalau saja aku tidak mengingatnya.”
Sekarang setelah aku mendapatkan kembali ingatanku, masa lalu dan masa kini terhubung. Meskipun diriku yang dulu sudah meninggal; Aku tidak bisa menganggapnya sebagai orang lain—
(—Hal yang sama juga berlaku untuk pria itu.)
Kalau dipikir-pikir lagi; dia sama terkejutnya denganku saat makan malam tadi.
(Apa dia juga mengingatku?)
Sebelum aku menyadarinya, perasaan yang menyesakkan meluap-luap.
Negara dan keluargaku bisa hancur; Aku cuma ingin berbicara dengannya seperti dulu. Aku ingin kembali seperti dulu. Aku ingin menghabiskan waktuku dengan suamiku sebagai diriku sendiri, bukan sebagai Putri Ketiga Kerajaan.
Meskipun aku tahu bahwa itu cuma sebatas mimpi, aku cuma bisa berharap.
"…Aku ingin bertemu dengannya."
Air mataku yang bercucuran menyebar di seprai.
“Mau bertemu siapa?”
Aku secara refleks bangkit.
Menggapai belati yang kusembunyikan di bawah bantal; Aku berguling dari tempat tidur dan mengarahkannya ke arah suara itu.
"Siapa itu?"
Meski sudah belajar teknik bela diri, aku tetaplah seorang wanita. Aku tidak berpikir aku bisa berbuat banyak dalam situasi ini.
(Mengapa? Dari mana? Apa yang terjadi dengan para penjaga di luar? Bagaimana dengan para pelayan?)
(…Apa dia orang yang membenci Rouga?)
Demi mencegah perang, walau itu berarti bunuh diri—
—Tidak, bukan itu intinya.
Aku tidak boleh terlalu terburu-buru, tetapi aku juga tidak menemukan solusi untuk saat ini. Aku terlalu ceroboh.
"Itu pertanyaanku juga."
Aku terdiam ketika pria itu mendongakkan kepalanya dari sisi lain tempat tidur.
“…Jenderal Greizel?”
Pria itu, mengerutkan keningnya, tanda tidak senang, dia juga pria yang kulihat saat makan malam.
Setelah yakin bahwa dia orang yang sama, aku tanpa sadar menyebut namanya.
“Jadi, kau sudah mengenalku. Apa kau baik-baik saja? Pegang tanganku. ”
Dia mengulurkan tangannya padaku, dan aku secara refleks menyambutnya. Baru setelah dia menarikku kembali ke tempat tidur barulah aku tersadar—
(—Apa aku mempercayainya semudah ini?)
“K-Kenapa Anda ada di sini—!?”
Meskipun aku berusaha agar tetap terdengar formal, cuma itu yang bisa aku tanyakan. Pada saat yang sama, aku menyadari bahwa aku telah membuat kesalahan lain. karena aku berbicara dalam bahasa Rouga, bukan Quell.
(Apa aku membuatnya bingung?)
“Sebelum kujawab, siapa yang ingin kau temui? Tergantung siapa orangnya, aku akan membiarkanmu bertemu dengannya atau aku akan menghajar orang tersebut.”
“Eh, tunggu, apa yang terjadi—!?”
Aku memegang kepalaku—
(—Ada banyak hal yang ingin kutanyakan!)
“Saya pikir Anda tidak harus melakukan hal itu. terlebih lagi, ini adalah kamar tidur Putri Ketiga Kerajaan Rouga sementara Anda adalah seorang Jenderal Kekaisaran Quell—sebentar, apa maksudnya dengna menghajarnya!?”
“Apa salahnya dengan seorang suami yang memasuki kamar istrinya? Jika istrimu tiba-tiba punya keinginan untuk bertemu seseorang—Apalagi jika seseorang itu adalah pria, tentu saja, aku akan menggunakan kekerasan.”
“Jangan berbicara sesuatu yang berlebihan seperti itu, seperti hal normal!”
Meskipun perkataanya masuk akal, setelah menyadari di mana kami berada, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak—tapi kemudian…
“…Tunggu, jangan bilang kalau Anda juga—?”
“Kupikir kau pingsan karena sudah tahu.”
Katanya dengan santai sambil memiringkan kepalanya.
Responnya yang seharusnya membuatku kesal malah membuatku menangis.
Ketika aku mau melompat ke dadanya, lengannya sudah merangkulku terlebih dulu.
“T-Tapi perbuatannmu tadi menakutkan…!”
"Benarkah? Mengesankan bukan? Dan kau benar-benar terkejut, kan?”
“Aku cuma terkejut dengan niat membunuhmu…”
“Hahaha, kau selalu mengatakan hal yang menarik. Jadi, siapa yang ingin kau temui?”
“Bodo ah.”
Sambil membelai punggungku dengan lembut, suamiku menyatakan cintanya kepadaku, dan aku langsung merasa lega—sekaligus juga membuatku frustrasi…
Aku harus mengatakan sesuatu.
Aku harus menjelaskan secara mendetail ke pria yang sering buat masalah, sering masa bodoh, dan selalu jujur ini.
Tapi pada akhirnya, yang kulakukan hanyalah membenamkan kepalaku di dadanya dan menangis.
***
Untuk mengganti suasana, aku berdehem—atau mungkin untuk menghilangkan rasa maluku.
“… Anu, jadi bagaimana caranya kamu bisa masuk kemari?”
"Dari langit-langit."
“Hah!?”
Melihat ke arah yang dia tunjuk; papan langit-langit nampak tidak sejajar.
(Abang ini seorang ninja ya?)
"T-Tapi bagaimana dengan para penjaga?"
“Aku ini pemimpin para penjaga. aku masuk setelah bilang kalau aku melihat orang yang mencurigakan.”
"Kamulah orang yang mencurigakan itu!"
"Jangan khawatir. Selain aku, tidak ada orang yang mencurigakan yang mengincarmu.”
“Kamu sadar diri juga ternyata.”
Mereka yang percaya dengan perkataan suamiku benar-benar ceroboh.
(Ini adalah pertemuan diplomatik yang penting, jangan biarkan orang melakukan apa pun yang dia inginkan meskipun dia punya pengaruh,)
“Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Bagaimana jika terjadi keributan karena kamu menyelinap ke kamar Tuan Putri?”
“Ya kembali ke tempat asalku. Tenang saja. Aku tidak bilang kalau aku sedang kemari.”
“…” 
Dalam keadaan normal, tidak mungkin aku akan duduk diam saat adik sang kaisar menyelinap ke langit-langit kamarku. Aku pasti akan menghentikannya dengan sekuat tenaga. Tetapi mengingat pelakunya adalah suamiku sendiri, membuatku diam.
(Apa karena aku pernah melihat suamiku memanjat untuk memperbaiki kebocoran di atap rumah dulu?)
…Tapi situasi saat ini berbeda.
Yah pokoknya aku tidak perlu khawatir untuk bertanggung jawab atas tindakannya ini.
Aku menghela napas dan menjatuhkan diri di tempat tidurku. Ini mungkin tindakan yang tidak sopan, terutama di hadapan seorang pria asing. Tapi dia ini (mantan) suamiku, jadi itu tidak masalah. Aku sadar bahwa kata-katanya terkadang memengaruhiku, aku juga tahu bahwa berhati-hati juga tidak ada gunanya dihadapannya.
Suamiku memandangiku dari atas saat aku berbaring telentang.
Jika dilihat lebih dekat, dia memang orang yang berbeda. Suamiku tidak memiliki wajah yang tegas di kehidupan sebelumnya. Meskipun tampan, ada bekas luka — bukti bahwa dia telah mengalami pertempuran yang tak terhitung jumlahnya — terukir di wajahnya.
(Bagaimana aku tahu kalau dia adalah suamiku pada pandangan pertama?)
(Tidak, sekarang bukan waktunya…)
Sikap periang suamiku menyebabkan aku tenang. Meski demikian, itu tidak berarti bahwa situasi saat ini sudah selesai. Sekarang setelah kekhawatiran tentang suamiku telah hilang, sudah waktunya untuk mengkhawatirkan diriku sendiri.
Setelah tiba-tiba pingsan di arena diplomatik, bagaimana aku harus bersikap? Haruskah aku meminta bantuan suamiku? Tapi bagaimana caranya? Terlepas dari apapun, itu masih pertemuan pertama kami. Pertama-tama, aku memang seharusnya tidak mengenalnya.
…Seperti yang kuduga, aku harus membuat persiapan lainnya.
Kemudian, sebuah tatapan menembus kekhawatiranku. Suamiku masih menatapku.
(Apa dia sedang membandingkanku dengan diriku yang dulu?)
Ya maaf karena sudah menjadi nenek-nenek biasa di kehidupanku sebelumnya.
(Atau malah diriku saat ini?)
Anehnya, aku tidak ingat apa yang terjadi sebelum aku meninggal. Di saat yang sama, karena dia juga bereinkarnasi, dia pasti sudah meninggal juga.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” 
“Tidak ada.”
"Tidak apa-apa. Jujur saja padaku. Aku tidak akan marah.”
“Hmm, bagaimana ya bilangnya? pakaianmu sangat erotis.”
“…”
Buhe!
Aku melempar bantal ke wajahnya. Bulu-bulu bantal berterbangan di depanku, dan aku tersadar kembali.
(Apa yang sudah kulakukan ke seorang jenderal?)
"Tadi kau bilang, kau tidak akan marah."
"Apa yang kamu pikirkan pada saat seperti ini?!"
"Saat-saat seperti ini, aku selalu memikirkan istriku."
“Jangan bertingkah sok keren sekarang!”
(Jangan melihatku…!)
Memang benar, karena kelalaianku, aku tidak memakai pakaian dalam. Kalau dipikir-pikir lagi; aku cuma mengenakan gaun tipis. Meski aku pernah menjadi istrinya, diriku saat ini adalah seorang gadis muda. Aku benar-benar ceroboh.
Kemudian, suamiku mulai mendekatiku yang masih dalam keadaan jengkel. 
Sambil memeluk bantal, dia menatapku memohon dan berkata dengan nada serius.
"Ayo kita bercinta."
"Bodo ah."
(—Bagaimana dengan situasi diplomatik kita saat ini!? jujur saja; itu tidak mungkin!)
Aku meninju wajahnya melalui bantal yang dia peluk. aku mendengar sekilas erangan, Jenderal yang sering bertarung itu bahkan tidak bergeming dan malah menangkap pergelangan tanganku.
“Jenderal macam apa yang mau menggerayangi Tuan Putri dari kerajaan lain?!
“Itu aku. Tunggu? Apa? Tuan Putri?"
"Ya! Apa kamu akhirnya sadar?! Terlepas dari penampilanku, aku masihlah seorang Putri Raja!”
“Oh, berarti kamu masih perawan ya?”
"Si kakek mesum ini!"
(Tidak, jangan terpengaruh.)
(Jangan lengah.)
(Jangan senang karena pancaran matanya…)
(Tapi… senyum konyolnya itu sangat lucu? Y-Yah, meskipun begitu, dia masih kakek-kakek yang mesum…)
"Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan menjadi yang pertama bagimu lagi ... aku ini pria paling beruntung."
"H-Hah!? Aku tidak pernah menyetujui apapun! Aku adalah putri dari negara lain! Kita seharusnya menjadi musuh!”
“Tenang saja, Jangan khawatir. Aku sendiri juga masih perjaka.”
“Untuk apa kamu berkata seperti itu?!
“Oh iya, Kita sudah lama tidak bercinta, aku mungkin sudah tidak seganas dulu. kalau begitu, apa aku harus "jajan" dulu?
"JANGAN, kamu tidak boleh!"
Tanpa sadar aku mengungkapkan ketidaksenanganku dan segera menutup mulutku. Aku jengkel pada suamiku yang dengan nakalnya mengatakan hal itu.
Lagi pula, meskipun cuma "jajan", membiarkan wanita lain menyentuh suamiku, tentu wajar bagiku untuk membenci hal itu!
“M-Maksudku aku tidak peduli. Apa yang mau kukatakan adalah bahwa sekarang bukan waktunya untuk main-main ... Meskipun tidak ada perang, kita masih dalam masa-masa sulit."
“Oh.”
“Aku tidak ingin menempatkanmu dalam bahaya apa pun. Aku juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan kerajaanku sendiri… Kamu mengerti, kan?”
Jika terjadi perang, dia pasti akan maju dan ikut bertempur.
Setelah itu, entah dia akan menguasai negaraku atau sebaliknya… Pemikiran seperti itu yang membuatku resah…
Sesaat kemudian, ada tangan besar menggenggam tanganku yang sedang gemetaran.
“…Enggak.”
"D-Dengarkan apa yang aku katakan."
“Sampai saat ini, aku belum mendengar tentang apa keinginanmu—atau penolakanmu, Cuma itulah yang ingin kudengar, bukan situasi negara kita sekarang, itulah mengapa aku ada di sini.”
Telapak tangannya yang hangat mencengkeram tanganku.
(Keinginanku sendiri... )
Dibandingkan dengan perdamaian negara, keinginanku merupakan hal sepele.
Beginilah kehidupan seorang Putri dan perannya—
Namun.
Ingatan dari kehidupanku sebelumnya membuatku rapuh.
“Aku… aku…”
“Hmm…”
“…Aku ingin bersamamu lagi.”
"Aku mengerti."
Matanya yang nampak lembut, halus, namun tajam.
Matanya yang dipenuhi dengan kebaikan dan gairah.
Ketika dua mata itu perlahan mendekat, membuatku tersesat dalam pesona.
Kemudian, sesuatu telah dicuri.
Untuk pertama kalinya di dunia ini, ciuman di bibirku, sekali lagi dicuri olehnya—
Dia dengan lembut menggigit bibirku sebelum bergerak dari sudut bibirku ke pipiku, lalu ke belakang telingaku, merangsangku sedikit demi sedikit…
“Aku bilang, jangan…”
"Tenang saja."
Dia tertawa genit di leherku, dan membuat bahuku tersentak.
"Aku belum memasukkannya."
Sebelum aku menyadarinya, dia membuka gaunku dan membelai kulitku yang telanjang.
Dari bawah, tangannya yang besar dengan cepat meraih dadaku lalu meremasnya.
"Ah…! J-Jangan…!”
"Ada apa? Tidak ada yang tahu aku ada di sini. Jika kau tidak kehilangan apa pun, itu sama saja dengan tidak terjadi apa-apa kan?”
“T-Tapi bukan itu masalahnya!”
"Kau tidak akan bisa kabur, Tuan Putri."
“Ah?!”
Ujung jarinya bermain-main di ujung dadaku.
(…Dia ini sudah tidak bisa berpikir lagi.)
Mantan suamiku tidak akan menggunakan bahasa genit seperti itu!
“Jika aku bilang tidak ada yang terjadi, maka ya tidak ada. Begitulah hebatnya perkataan adik sang kaisar dan Jenderal Greizel Gouda Quell.”
“K-Kamu jangan menyalahgunakan kekuasaanmu!”
“Yang kulakukan cuma melihat mereka, dan mereka akan diam. Satu-satunya orang yang bisa menuduhku tanpa bukti adalah… Ya kakakku sendiri. Tapi aku sangat ragu dia akan mengatakan apa pun.”
"Ah, tidak... jangan..."
“Apa kau sudah puas? kau basah kuyup begini. Ini tanda kamu sehat… Tapi, jari-jariku masih belum masuk lho.”
(B-Benar, dia benar…)
Dia bukan sekedar mantan suamiku.
Sama seperti diriku, dia adalah pria yang tumbuh dalam posisi dan lingkungan yang sama sekali berbeda. Setelah ikut serta dalam berbagai pertempuran, dia menggunakan kekuatan dan statusnya untuk membuat namanya terkenal dan hasilnya, dia disegani oleh negara-negara lain.
Dia juga pria yang tanpa ampun.
Aku menenangkan rasa takutku dengan pemikiran bahwa dia sama dengan mantan suamiku yang dulu, tapi sekarang dia menunjukkan sisi yang berbeda dari dirinya yang dulu.
—Hal ini sama denganku.
Meski dikelilingi oleh kakak perempuan dan laki-laki yang luar biasa cakap, ibu yang cantik, dan ayah yang tegas, aku hanyalah seorang Putri Ketiga yang tidak berguna. cuma kebetulan menerima pendidikan sebagai Tuan Putri. Bahkan setelah itupun, aku tidak dapat menemukan peran apa pun lagi selain menjadi bidak pengorbanan.
Di tengah kekacauan yang ada, aku datang jauh-jauh ke sini demi mencari sesuatu tetapi akhirnya berada dalam situasi seperti ini.
(...Meski begitu, apa ada orang di posisiku yang bisa menolak hal ini?)
“…Jujurlah dengan dirimu sendiri, dan bergantunglah padaku, Meira.”
Sebagai tanggapan atas bisikan lembutnya, aku pun melingkarkan lenganku di lehernya.
“…Tuan Greizel?”
"Tidak perlu pakai Tuan."
“Grei—ah, hei, biarkan aku selesai bica… Ah—”
"Aku lebih suka nada bicaramu yang apa adanya."
Dia tampaknya tidak suka saat aku berbicara dengan bahasa formal di depannya, aku memang sengaja berbicara dengan bahasa formal, tetapi berkat dia, aku tidak berbicara seperti itu lagi.
Berkali-kali, dia menghujani bibirku dengan ciuman, membuat pikiranku melayang. Tatapannya yang penuh gairah—yang bisa disalahartikan sebagai tatapan marah, membakar diriku.
Mantan suamiku—tidak, tapi Greizel ini seperti hendak menandai keberadaannya di sekujur tubuhku.
Saat dia membelai rambutku, dia semakin merangsek masuk ke dalam ke bibirku, dan lidahnya bergeliat lebih dalam. Ujung jarinya yang berada selangkanganku juga mulai bergerak-gerak.
"Sekarang, buka mulutmu."
“Berhentilah bicara yang begitu mesum!”
"Tapi aku memang suka bicara mesum."
"Bodo ah."
"Oke, oke... Jangan ngambek begitu..."
"Apa yang kamu katakan itu—"
—Jari-jarinya yang basah kuyup itu mulai perlahan memasukiku.
Hyii—!”
“Wow panasnya, tidak cuma menyembul, tapi juga menjepitku dengan kuat… Sepertinya enak banget jika aku bisa berada di dalam sana?”
“Ah, ah, t-tidak… jangan dimasukkan—”
“Hmm?! jepitannya semakin kuat... Apa kau membayangkannya? Untuk saat ini, berpuaslah dulu dengan jariku, oke?”
(—Kok seakan-akan aku yang mau?!)
Suaranya yang memanjakan dan menenangkan, semakin membuatku malu. Padahal yang pertama menginginkannya adalah Greizel, jadi kenapa aku juga mau?!
“Tidak apa-apa. Setelah kita menikah, kita akan sering melakukannya.”
“Aku tidak bisa melakukannya…”
"Tapi aku bisa."
…cluk! cluk! cluk!
Perlahan-lahan, dia mulai keluar masuk ke dalam diriku. Padahal cuma begitu saja, tapi sensasi kenikmatan yang ada seperti hendak mematahkan pinggangku.
“Ah, t-tunggu… Hentikan…!”
“Selama kau percaya, kesempatan itu akan datang. selama ada tekad, tidak ada yang tidak dapat dicapai.”
“Hah sebuah ungkapan—!? T-Tunggu, tunggu—”
“Kesulitan adalah kekuatan. Oleh karena itu, mari bekerja sama dan melakukan yang terbaik—”
“Diam—ah, ah, a-ahhh—”
“Bersama-sama, mari kita raih kebahagiaan.”
Pandanganku mulai berputar-putar.
(Tidak, aku tidak bisa menahannya lagi.)
(Aku akan muncrat! A-Aku akan muncrat—)
(—Greizel, dasar bodoh!)
"Cantiknya."
Greizel mencium keningku, saat aku sedang bergetar hebat dalam kenikmatan ini—
(—Aku ingin memukulnya!)
Kemudian, terdengar suara ketukan ringan.
Aku terperanjat dan membeku, sementara Greizel menatap tajam ke arah pintu. Rasa campur aduk mengalir dalam diriku, terlebih lagi ketika aku menyadari bahwa jarinya Greizel masih ada di dalam diriku—
(—Anu, bisa tolong keluarkan dulu jarimu.)
"Tuan Putri? Saya mendengar sesuatu…"
Ternyata berasal dari seorang pelayan.
(Apa itu karena teriakanku sebelumnya?)
“Saya seperti mendengar Anda sedang memanggil nama sang Jenderal.”
(Tidaaak!!!)
“Tidak ada, aku cuma terbangun dari mimpi buruk. Semuanya baik-baik saja."
Entah bagaimana aku berhasil menjawabnya.
"Saya mengerti. Apa Anda ingin saya buatkan minuman hangat?”
“T-Tidak, tidak usah …”
"Begitu ya…?"
(Abaaaaang!!!)
Suaraku pecah gelagapan.
Alasannya karena jarinya mulai bergerak lagi, meluncur keluar masuk di dalam diriku.
Saat aku memelototinya, dia cuma tersenyum sambil mencium pipiku dan memelukku dari belakang. Aku sudah sangat berhati-hati, bagaimana jika si pelayan tiba-tiba memutuskan untuk membuka pintu?
“M-Maaf sudah membuatmu khawatir, tapi aku baik-baik saja… Jadi—”
"Tapi Tuan Putri—"
“K-Kita harus bangun pagi untuk acara besok, kan?”
(Abaaang!? Tidak, kakek tua mesum ini!!! musuh bagi semua wanita!!!)
Meski aku meneriakkan berbagai makian di dalam hati, aku tidak bisa menyampaikannya ke Greizel karena aku harus meyakinkan si pelayan.
“…Betapa baiknya Tuan Putri yang satu ini.”
Bisiknya ke telingaku seolah mengejekku. dia pasti sangat menikmati hal ini—
(—Bagaimana jika kita ketahuan?!)
Telapak tangannya yang panas membelai perutku, dan itu membuat punggungku bergetar.
“…Sikap baikmu tidak berubah. Aku mencintaimu, Meira.”
(Jangan sekarang!!!)
Sekarang bukan waktu yang tepat.
Saat aku merasa akan mencapai klimaks lagi, aku menahan perutku, berusaha untuk menahannya. Tapi Greizel mencengkeram tanganku dan mencium pipiku dengan lembut—
(—Aku tidak mau mengakui semua perbuatannya ini!)
"Kalau begitu, Tuan Putri, silakan istirahat lagi."
“…T-Tentu saja… Ah, t-terima kasih…”
Aku masih berhati-hati, tapi pelayanku sepertinya sudah pergi. Setelah mendengar suara langkah kakinya yang semakin menghilang, aku menyandarkan tubuh lemasku ke Greizel.
“Apa kau klimaks?”
“—!!!”
Pada saat yang sama, kenikmatan yang terkumpul mencapai ujungnya.
“…Kamu berhasil menahannya dengan baik. Gadis pintar."
"Apa aku seekor anjing?"
"Jika aku melakukan hal ini pada anjing, aku akan dianggap orang mesum."
“Bahkan tanpa melakukannya pun, kamu itu sudah mesum!”
Dia tertawa kecil dan membelai rambutku.
(…Apanya yang lucu?)
“B-Bagaimana jika pelayan tadi memutuskan untuk masuk?!”
“Hmm, kita beruntung, ya?”
"Nih orang…!"
Meskipun tidak sampai menyebabkan masalah, aku kesal karena aku seperti menari di atas telapak tangannya.
...Mungkin aku harus mempertimbangkan hal ini lagi.
Aku masih memiliki beberapa lamaran pernikahan yang lain.
Selain itu, aku juga tidak diperintahkan untuk menikahi jenderal musuh...
“…Meira?”
Hawa dingin mengalir di tulang punggungku.
Karena suaranya yang dingin dan rendah, aku tidak bisa berbalik.
Ketika wajahnya perlahan mendekati wajahku, senyum lembutnya masih ada, tapi matanya menyipit tajam.
“Ayo kita tidur. Aku juga harus bangun pagi besok. esok akan menjadi makan malam pertama kita.”
“O-Oke…”
Saat telapak tangannya yang besar mengelus kepalaku, aku hanya bisa mengangguk.
***
…Pada akhirnya, aku tidak menemukan ide yang bagus untuk memperbaiki kesalahanku.
Jadi, aku memutuskan untuk tetap menyambut para menteri dan menanggapi kejadian pingsanku dengan tenang. Memang begitulah rencana awalnya, walau kesan mereka terhadapku mungkin telah jatuh.
Mungkin, aku bisa mengabaikannya sebagai kecelakaan biasa dan membuat alasan pingsanku karena belum terbiasa menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. walau aku mungkin masih akan dianggap remeh.
…Aku akan menyelesaikan masalah dengan Jenderal Greizel di lain waktu. karena itu bukan masalah yang mendesak. Aku senang bahwa suamiku "masih" suamiku yang dulu, dan itu sudah cukup untuk saat ini.
Aku pun melanjutkan langkah kakiku.
“Selamat datang, Tuan Putri. Apa Anda sudah merasa lebih baik?”
Seorang pria berjanggut—mungkin salah seorang menteri, memanggilku. Dengan memakai bahasa Rouga yang fasih, penghinaannya terlihat jelas. Meskipun Greizel melakukan hal yang sama pada malam sebelumnya, tapi konotasinya berbeda.
Aku cuma tersenyum sebagai balasannya.
Lalu, hening.
Jika aku gemetar karena hati-hati, aku akan disalahpahami sebagai bentuk kelemahan. Karena di pendidikan Putri Kerajaan, aku dilarang berbicara dengan bawahan tanpa pengenalan lebih lanjut.
Keheningan ini membuatnya menyerah.
"…Saya minta maaf. Saya Menteri Urusan Dalam Negeri Kekaisaran Quell, Arolla Gokey. Saya senang Tuan Putri tampaknya telah pulih.”
Menteri Urusan Dalam Negeri bertanggung jawab atas politik dan akan mempresentasikan keinginan rakyat negara itu.
…Dengan kata lain, jika seseorang dengan pangkat tinggi seperti dia berani memprovokasi Tuan Putri dari negara lain, lebih baik tidak terlalu mengharapkan keramahan dari yang lain.
Pemberontakan mungkin tidak akan terjadi jika bukan karna akan memicu perang.
Aku tersenyum dan membalas salamnya.
“Baiklah, Gokey, terima kasih.”
Salamku sesederhana itu.
Karena tidak perlu sapaan formal, aku menjawabnya dengan sapaan ala Tuan Putri yang angkuh, namun simple dalam bahasa Quell lalu memalingkan muka.
Pada saat yang bersamaan, pandanganku tertuju pada Greizel yang sedang tertawa.
Dia sepertinya melihat semuanya.
Entah mengapa, aku merasa malu dan buru-buru duduk.
Aku dipertemukan dengan seluruh keluarga Kekaisaran Quell, yang merupakan pertanda baik. Mungkin aman untuk berasumsi bahwa mereka tidak memiliki niat permusuhan. Karena jika mereka bermaksud merendahkanku, aku hanya akan dipertemukan ke para menteri saja.
Yang membuat asumsiku semakin benar adalah karena mereka semua hadir saat perjamuan makan malam kemarin.
Namun, yang berbeda adalah Sang Kaisar juga hadir kali ini. Dia duduk di kursi paling mewah.
“Tuan Putri dari Rouga, bersama para duta besar, terima kasih telah datang jauh-jauh ke sini. Saya harap Anda dapat bersantai dan menikmati hidangan yang disediakan.”
“Terima kasih atas kebaikan Anda, Yang Mulia Kaisar.”
Begitu aku selesai menjawab, seseorang tiba-tiba berdiri.
Venue yang tadinya tenang, kembali tegang.
Dengan tatapan tajam di wajahnya, Jenderal Greizel menatap sekelilingnya dan meninggalkan tempat duduknya dengan langkah seorang tentara yang gagah.
"Greizel, apa yang kau—"
—Meskipun yang bertanya adalah sang kaisar, dia tetap tidak berhenti berjalan.
Kemudian, dia berhenti tepat di sampingku.
…Di tengah ketegangan ini, aku bisa merasakan tatapan tajamnya menusukku.
Bisa dibilang; Aku berkeringat dingin karenanya.
Higgs, bersama para diplomat lainnya, melihatnya dengan menahan napas.
Sementara para ksatria pengiringku mulai bersiap memegang pedang mereka—
—Lalu tiba-tiba, Jenderal Greizel berlutut.
“Tuan Putri Meira, Saya mencintai Anda bahkan sebelum Saya melihatmu. Mohon kasihanilah saya dan terimalah saya sebagai suamimu.”
(—Abaaaangg!?!?!)
Terjadi keributan.
Para menteri dari Quell menjadi pucat karena kebingungan, sementara beberapa diplomatku menjatuhkan piring mereka karena keheranan. Sedangkan sang kaisar yang bahkan belum memulai pidatonya—
—namun Greizel tetap berjalan dan melakukan hal ini.
Pertama, apa maksudnya "bahkan sebelum saya melihatmu," meskipun memang benar, itu berlebihan...
“T-Tuan Greizel, apa yang—”
“—Anda boleh memanggilku Greizel. Tidak, panggil saja Zell, Saya tak keberatan.”
(Apa maksudnya?!)
"Oh? Fufufu. sepertinya Anda sudah tergila-gila… ”
“Ya, aku sudah tergila-gila denganmu. Dan obatnya adalah menikahimu.
“Fufufu. Seperti biasa, Anda pandai membuat lelucon…”
"Meira."
Duh…
Saat dia menatapku, dia juga menggenggam tanganku dengan erat—
(—Tekanan yang luar biasa…)
Aku tahu dia tidak akan melepaskannya.
"Yang Saya minta adalah agar Anda jujur."
(—bergantunglah padaku, Meira.) 
Perkataannya semalam bergema di benakku.
Aku bingung.
Tidak mungkin hubungan ini akan lancar tanpa hambatan.
Tidak mungkin ini akan berhasil.
Seingatku, suamiku memanglah baik dan lembut tetapi juga kadang tidak terduga… Oleh karena itu, aku sering terkejut dengan perbuatannya.
(Tapi aku tidak ingat dia begitu senekat ini...)
Dia memanglah suamiku, tapi di saat yang sama juga bukan—dan kejadian tadi malam membuatnya semakin jelas.
Aku tidak akan mempercayainya jika dia adalah pria yang sama seperti sebelumnya. Karena, aku sudah terikat dengan berbagai batasan.
Namun, jika pria ini, pria yang sudah lama hidup di dunia ini dan bertahan sampai titik ini... Jika itu adalah Greizel, mungkin tidak apa-apa untuk mempercayakan diriku padanya...
(Greizel, kau dan aku adalah musuh.)
—Meski begitu
(Selama kamu mau menerimaku...)
"Greizel, Apa Anda mau menerima saya apa adanya?"
Ekspresinya yang tegas berubah menjadi ekspresi bahagia.
"Tentu saja."
Dan acara makan malam itu akhirnya bukan sekadar menjadi makan malam biasa.
Pada saat yang sama, kejadian saat aku pingsan tidak lagi menjadi masalah, dan misi diplomatik kami menjadi sedikit berkurang bebannya
…Misalnya, jika ada yang berbicara tentang kejadian aku pingsan, inilah yang mungkin akan terjadi:
“Soal sang Tuan Putri pingsan—”
“—Istriku sedang tidak sehat lalu pingsan. Apa yang salah dengan hal itu?"
(A-Abaaang, plisss…)
Sesuai dengan perkataannya, yang perlu dia lakukan untuk membungkam para menteri cuma dengan menatap mereka saja.
(…Dia punya banyak kekuasaan!!!)
"Oh iya. Apa aku harus mengunjungi kerajaanmu? Hal ini juga akan mempermudah untuk memperdalam ikatan antara kedua negara.”
“…Greizel, dengan ini aku memberkati pernikahanmu. Kau boleh menikahinya di sini.”
Perkataan Greizel yang seakan dirinya ingin pindah ke negara lain, membuatnya dengan cepat mendapat ijin dari kaisar.
(Semudah ini kah dapat ijinnya…?)
Yah, tentu saja, akan berbahaya jika dia bergabung dengan Rouga.
Suasana yang tadinya kaku menjadi agak lunak karena tindakan suamiku yang tidak biasa. Dan hasilnya: para hadirin baik dari Rouga maupun Quell memasang wajah pasrah, seakan-akan seperti kena prank.
***
…Lalu, entah kenapa, Greizel dan aku sedang makan siang bersama.
Dia mengangguk dengan ekspresi serius.
"Jangan khawatir. Aku adalah tipe pria yang akan tetap mencintaimu walaupun perutmu membesar tiga kali lipat.”
“…”
Aku memuji diriku sendiri karena tidak memukulnya saat itu juga.
Memang sih dulu setelah menikah, aku sedikit lepas kendali dan menjadi sedikit gemuk. Tapi tetap saja, berat badanku tidak bertambah sebanyak itu…
Aku pun tersenyum.
“—Dan aku juga akan selalu mencintaimu meskipun rambutmu mulai rontok.”
…Kenangan akan suamiku yang sedang melihat ke cermin dan mulai meratapi rambutnya yang semakin tipis, kembali muncul dalam pikiranku.
Seumpama jika dia tidak memastikannya dengan menggunakan dua cermin, aku sendiri juga tidak akan tahu.
"Dan aku tetap mencintaimu, meski kau tidak dapat melihat dengan jelas kecuali harus mendekatinya terlebih dulu."
"Meski baumu dibenci oleh putri kita, aku akan tetap mencintaimu."
“Aku akan tetap mencintaimu meskipun kau sudah pikun soal waktu, dan selalu bertanya padaku tentang jam berapa sepanjang hari…”
"Bahkan jika semua gigimu ompong, aku akan tetap mencintaimu."
…Pada akhirnya, kami saling menghina satu sama lain.
Setiap kali aku memikirkan dirinya di masa tua kami, banyak kenangan mulai muncul kembali.
...Rupanya, aku sudah bersama pria ini lebih lama dari yang kukira.
Lalu…
"Bahkan ketika kamu meninggalkanku lebih dulu, aku masih tetap mencintaimu."
Ini fakta lain.
Dialah yang pertama kali meninggal dunia.
Aku memang sedih, tapi entah bagaimana aku siap dan menerima hal tersebut. Jika dipikir lagi, dia pasti sangat beruntung karena meninggal dengan damai. Tapi di dunia ini apa akan ada kematian yang damai baginya, mengingat dia harus ikut serta dalam berbagai pertempuran?
Saat aku sedang mengingat masa lalu, tiba-tiba Greizel berdiri.
"Kalau begitu, bagaimana kalau malam pertama kita, kita lakukan malam ini juga?"
"Apa?"
“Beberapa waktu yang lalu, aku menerima surat dari kerajaanmu yang secara resmi memberikan ijin. Dengan kata lain, kita sekarang sudah menikah.”
"Hah…?"
"Jangan khawatir. Tubuhmu saat ini tampaknya sudah cukup sensitif. Karena itu, meski aku tidak pernah berhubungan dengan wanita laia, tapi aku percaya diri dapat memuaskanmu.”
“Ah—”
(Abaaaaang!!!!)

Comments